Sabtu, 20 Juli 2013

Cerpen Islami_Cinta dan Rindu Allah

Cinta dan Rindu Allah
Oleh: Nuni Wahyuni
Ada apa?
Hati ini bergemuruh dahsyat
Kaki dan tangan ini bergetar hebat.
Ada apa?
Ini bukan perkara biasa
Kita berbincang tentang shalat
Anak itu menjawab:
Aku Cinta dan Rindu Allah
(Hilman dalam majalah “Relikui Kehidupan”)
***
“Asyhaduallaa Ilaahaillallah Waasyhaduanna Muhammadarrasulullah.”
Puluhan orang di masjid kecil di tengah  kota itu mengucap hamdalah dengan serentak. Senyum bahagia terukir di wajah orang-orang yang duduk melingkar. Mata mereka dengan lembut menatap seorang anak berusia dua belas tahun yang kini tengah dipeluk oleh seorang pria setengah baya. Beberapa orang mengeluarkan air mata. Bahkan ada beberapa orang yang menangis terisak sambil terus bertahmid. Secara bergantian para pria yang berasal dari berbagai suku bangsa itu bersalaman dan memeluk anak yang saat ini menjadi pusat perhatian. Seorang anak berambut pirang, bermata biru, berkulit khas kaukasoid itu juga tak berhenti mengucapkan tahmid. Wajahnya memerah karena tangis kebahagiaan.
Setiap orang kembali ke tempatnya masing-masing. Anak itu berdiri, didampingi pria setengah baya yang tadi membantunya mengucapkan syahadat.
“Saudara-saudaraku, hari ini kita telah menjadi saksi bahwa anak yang berdiri disampingku ini adalah seorang muslim. Berkat rasa cinta dan rindu yang menggebu kepada Allah, Tuhannya, dia memutuskan untuk menjadi bagian dari kita. Bagian dari umat Muhammad saw. bagian dari golongan orang-orang yang beriman kepada Allah. Dia, Cody Imanuel, saat ini telah mengganti namanya menjadi Muhammad Rif’atul Hamdi. Panggil anak muda ini Ahmad, agar dia merasa dekat dengan orang yang dia cintai.” Ucap pria setengah baya itu sambil memandang ke arah orang-orang disekelilingnya.
Bagi Cody yang kini telah mendapat nama baru, ini adalah hari yang luar biasa. Tidak pernah sekalipun dia bayangkan, dia menjadi bagian dari orang islam. Dia menjadi saudara bagi muslim lainnya. Dia menjadi saudara bagi muslim Arab, muslim Palestina, muslim Mesir dan muslim di tempat tinggalnya. Amerika.  
***
            Para remaja tanggung itu sedang asyik menikmati waktu istirahat makan siangnya. Beberapa anak tetap duduk di kelas, asyik memainkan gadgetnya. Beberapa anak lainnya langsung pergi menuju kantin sekolah.
Hand phone Ahmad (Cody) berdering. Ahmad bangkit dari kursinya.
            “Cody, kau mau ke kantin?” Tanya seorang anak berwajah oriental yang duduk disampingnya.
            “Emh, oh, aku ada perlu sebentar. Aku pergi dulu.” Ucap Ahmad terburu-buru.
            Ahmad terus melangkah cepat. Melewati koridor yang berkelok. Dua kali berbelok ke arah kiri, terlihat pintu kokoh yang menutupi sebuah ruangan. Ahmad memasuki ruangan tersebut. Dia mengeluarkan sebuah sajadah yang disimpan di dalam lemari di ruangan itu. Dengan cepat, dibentangkannya sajadah berwarna abu. Dia berdiri di atasnya. Lalu dia melaksanakan shalat Dzuhur empat rakaat.
            Tanpa Ahmad sadari, seorang anak laki-laki memasuki ruangan tempat dia shalat. Anak itu menyadari apa yang sedang Ahmad lakukan. Kemudian dia berlari mendatangi teman-temannya.
            “Ada teroris di sekolah ini! Ayo ikut aku!” Seru anak itu pada teman-temannya.
            Teman-temannya terlihat kaget. Dia mengikuti anak yang menyerunya. Tepat saat Ahmad memalingkan wajahnya ke kanan dan mengucap salam, mereka memasuki ruangan tempatnya shalat.
            “Lihat! Dia teroris. Apa yang dilakukannya adalah ritual yang sering dilakukan oleh teroris!” Seru anak itu kepada teman-temannya.
            Salah satu anak dari gerombolan itu langsung menyerang Ahmad yang berdiri kaget. Dia memukul tepat di ulu hati Ahmad.
            “Dasar teroris!” Ucap anak yang memukul Ahmad.
            Ahmad hanya mengerang kesakitan. Dia memegangi bagian ulu hatinya. Nafasnya menjadi sesak.
            Beberapa anak lainnya ikut menyerang. Mengeroyok Ahmad. Mereka memukul pipi, dagu, pelipis, dada serta kakinya. Ahmad tak mampu melawan. Dia tersungkur. Lemas. Matanya menjadi kabur. Mengerang dan bertakbir di dalam hati. Cahaya masuk. Pintu terbuka. Seorang pria berbadan lebih besar di banding yang lainnya masuk ke dalam ruangan. Kemudian semua menjadi gelap di mata Ahmad.
***
            Hilman duduk di meja kerjanya. Dia membuka map merah yang tadi diberikan bosnya. Dahinya mengkerut saat dia membaca profil orang yang harus diwawancarainya. Beberapa kali dia membolak-balik photo serta profil di map untuk meyakinkan diri. Dengan ragu dia berdiri, meninggalkan meja kerjanya kemudian mengendarai motor gedenya.
***
            Hilman mencium kesegaran lemon saat menghirup udara didalam rumah minimalis yang dikunjunginya. Dia duduk di sebuah sofa panjang berwana biru. Di dinding ruang tamu, ada beberapa photo keluarga imanuel. Photo seorang anak, wanita dan pria dewasa (yang semuanya bule) terpasang di tembok ruangan paling depan. Namun, bukan hal itu yang menyita perhatian Hilman. Ada sesuatu yang unik di ruangan ini. Di satu sisi, dia melihat sebuah salib besar terpasang di dinding. Akan tetapi, di sisi dinding lainnya, terpasang kaligrafi bertuliskan Huruf Arab yang indah.
            “Ayat kursi.” Ucapnya setelah mengenali tulisan itu. “Dari awal aku memang merasa aneh dengan orang yang akan aku wawancarai ini. Tapi aku tak pernah berfikir bahwa di rumah ini akan terpasang simbol dua agama yang berbeda. Sebenarnya siapa mereka?” Hilman mengerutkan dahinya, memandangi photo keluarga yang digantung di dinding depan. Lalu menyeruput kopi yang telah disuguhkan oleh tuan rumah.
            Tak lama, seorang anak berseragam SMP masuk. Dia tersenyum ramah kepada Hilman. Muka bulenya terlihat merah karena terbakar matahari. Akan tetapi, matanya yang cemerlang terlihat sangat menenangkan.
            “Kakak wartawan dari majalah relikui kehidupan?” tanya anak itu sambil duduk disamping Hilman.
            “Iya. Kau Cody Imanuel kan? Bisakah wawancara kita mulai sekarang?” Hilman memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arah anak bule itu.
            “Iya, tapi sekarang aku lebih sering dipanggil Ahmad. Kakak muslim?”
Hilman menganggukkan kepalanya.
“Ya. Saya muslim.”
“Sekarang sudah waktunya Shalat Ashar. Gimana kalau kita shalat dulu, setelah itu baru wawancara.” Ajak Ahmad pada Hilman.
Hilman menjawab dengan anggukkan. Ahmad mengantarnya menuju kamar mandi. Kemudian mereka berdua memasuki sebuah ruangan bercat putih. Seperti sebuah kamar yang disulap menjadi mushala kecil. Satu sajadah membentang ditengah ruangan tersebut. Sebuah lemari pelastik berdiri disudut belakang. Wewangian menyejukkan, memenuhi udara di dalam ruangan.
Ahmad mengambil sebuah sajadah dari dalam lemari. Dia membentangkan sajadah tersebut dibelakang sajadah lainnya. Lalu, dia berdiri di atasnya.
“Silahkan, kakak yang jadi imam!” Seru Ahmad pada Hilman.
Mata Hilman bergerak tak fokus arah. Senyuman terpaksa kembali tersungging di bibirnya. Dia berusaha menutupi rasa malunya.
“Maaf Ahmad, kakak lupa lagi dengan bacaan shalat. Sudah lama kakak tidak melaksanakannya.”
Ahmad tidak menjawab. Muka sumringahnya terlihat mengkerut. Kecewa. Dia pindah, berdiri di sajadah depan.
“Kalau begitu, kakak mau shalat di belakang Ahmad?” Ahmad kembali tersenyum.
Dengan langkah pelan, Hilman berjalan. Dia berdiri di atas sajadah di belakang Ahmad.
Ahmad mengangkat kedua tangannya.
“Allahuakbar.”
Hilman mengangkat kepalanya. Dadanya bergemuruh kencang. Tangan dan kakinya bergetar. Matanya memandangi punggung Ahmad.
“Kenapa?” ucapnya dalam hati. “Ada apa ini? Untuk pertama kalinya aku merasa tersentuh ketika mendengar seseorang mengumandangkan takbir. Sudah ratusan kali aku mendengar takbir, tapi baru kali ini ada sesuatu yang terasa aneh menusuk ke dalam hatiku. Kenapa? Ada apa?.” Sepanjang shalat berlangsung, perasaan aneh menyelubungi hatinya. Saat Ahmad mengucapkan salam, tanpa bisa dibendung lagi ruas-ruas air keluar dari sudut mata Hilman. Hilman berusaha menyembunyikan tangisnya. Dengan cepat dia mengusap wajahnya, berusaha menghapus air mata yang kini sudah berhenti mengalir. 
***
            “Sudah berapa lama kamu memeluk Islam?” Tanya Hilman pada anak berusia empat belas tahun itu.
            “Alhamdulillah sudah dua tahun kak.” Jawab Ahmad antusias.
            “Kau baru berada di sini sekitar satu tahun, artinya kau memeluk Islam sebelum berada di Indonesia?”
            “Ya. Aku memeluk Islam saat aku tinggal di Amerika.”
            “Bukankah kedua orang tuamu beragama katolik? Kenapa kau memutuskan memeluk Islam? Dan kenapa kini kau pindah ke Indonesia?
            Ahmad tertawa pelan. Tawanya tidak keras. Tawa itu justru terdengar menenangkan.
            “Iya. Ayah dan ibuku seorang katolik. Begitupula beberapa keluargaku yang lain. Sejak kecil aku belajar untuk menjadi pemeluk Katolik yang taat. Namun, orang tuaku memberikan kebebasan agar aku memilih agama yang sesuai dengan keinginanku. Berkat bantuan uncle yang telah terlebih dahulu menjadi mu’alaf, aku memutuskan untuk memeluk Islam sebagai agamaku. Ternyata, semakin aku mempelajari Islam, semakin menyenangkan. Mengenai kepindahanku ke Indonesia, tidak lepas dari keinginan kedua orang tuaku agar aku dapat belajar dengan tenang. Beberapa waktu setelah aku memeluk Islam, teman-temanku melihat aku melaksanakan shalat. Mereka merasa tidak suka karena menyangka shalat adalah ritual para teroris. Bahkan karena kesalahfahaman mereka, aku sempat mengalami penyiksaan baik fisik maupun psikologis. Teman-teman berusaha agar aku tidak shalat di sekolah. Namun, tidak semua teman-teman disana berlaku begitu. Ada juga teman-teman yang menghargai agamaku.”
            Beberapa saat Hilman terdiam. Dia berhenti mencatat. Dia mengingat masa kecilnya. Mencoba mengenang saat dia belajar shalat. Namun, yang ada difikirannya hanya wajah sang ustadz. Dia benar-benar lupa dengan apa yang ustadznya ajarkan--selain ayat kursi.
            “Hmm... Mendengar ceritamu tentang shalat, kakak jadi ingin bertanya, apa yang membuat shalatmu terasa berbeda? Apa yang kau baca saat shalat? Apa yang ada di dalam hatimu saat kau shalat? Jujur saja, tadi kakak merasa tersentuh, bahkan ketika kau mengumandangkan takbir yang pertama.” Tanya Hilman.
            Ahmad termenung sesaat. Dia mengerutkan dahinya, mencoba mengartikan kata-kata Hilman yang diucapkan dengan cepat.

            “Saya tidak tahu apa maksud kakak dengan berbeda. Mengenai bacaan shalat, aku rasa sama saja dengan shalat orang Islam lainnya. Tapi ada satu hal yang selalu bergelayut di hatiku saat shalat. Cinta dan Rindu kepada Allah yang sangat besar. Itulah yang selama ini aku rasakan.” Ahmad berbicara sambil tersenyum. Matanya melihat ke arah kaligrafi yang digantung di dinding.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar