Senin, 06 Mei 2013

Tentang Film jamilah dan Sang Presiden_Artikel


Tentang Film "Jamilah dan Sang Presiden"
Oleh: Nuni Wahyuni
            Banyak hikmah yang dapat diambil dari film ini. Diawali dengan narasi dari Jamila yang memperkenalkan dirinya sebagai korban perdagangan manusia. Lalu diceritakan kisah kehidupannya di masa kecil. Di jual oleh ayahnya. Di titipkan kepada keluarga kaya setelah berhasil meloloskan diri dari seorang mucikari. Diperkosa oleh ayah dan kakak angkatnya. Berhasil lari dari rumah keluarga kaya tersebut setelah membunuh kakak angkatnya.
Setelah lari dari rumah tersebut, Jamilah bekerja di sebuah pasar. Hampir diperkosa oleh seorang laki-laki di pasar tersebut. Dirazia polisi saat melewati sebuah diskotik. Bertemu dengan Susi, pelacur baik hati. Pertemuan ini menyebabkan dia membuat keputusan untuk memasuki dunia hitam sebagai pelacur. Hingga suatu hari, dia bertemu seorang mentri bernama Nurdin. Dia merasakan jatuh cinta yang sangat besar pada seorang Nurdin. Namun, Nurdin menikahi wanita lain yang telah dijodohkan oleh orang tuanya. Kemudian, dia membunuh Nurdin dalam upayanya menyelamatkan diri.
Jamilah menyerahkan diri. Dia ditahan di sebuah rumah tahanan di luar ibu kota. Salah satu ormas terus berdemo, menyuarakan agar dirinya di hukum mati. Di penjara, Jamilah bertemu dengan seorang sipir wanita yang sebenarnya simpati namun bersikap keras kepadanya. Diapun mendapatkan simpati dari seorang sipir pria yang akhirnya di bebas tugaskan dari penjara. Di sisi lain, seorang pria bernama Ibrahim sangat mencintainya dan ingin membebaskannya. Namun, Jamilah tak ingin dibebaskan. Dia telah putus asa karena pencarian terhadap adiknya selama bertahun-tahun justru mendapat kenyataan pahit. Ketika sipir wanita memintanya untuk mengajukan grasi kepada presiden, dia justru menolaknya. Dan akhirnya, suara tembakan dan sirine ambulans menjadi penutup kisah Jamilah.
Film ini, mengisahkan kehidupan seorang  Jamilah dengan permasalahan sosial yang begitu kompleks. Menyoroti kehidupan berbagai lapisan sosial, mulai kelas bawah hingga kelas atas. Sudut pandang yang berbeda tentang sosok pelacur dan pembunuh di film ini mengajarkan kepada penontonnya untuk melihat kejahatan, keadilan serta kerendahan moral yang dimiliki seseorang dari sudut pandang yang lain. Kejahatan serta rusaknya moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat bukanlah tanggung jawab perseorangan saja. Namun, hal itu merupakan tanggung jawab semua pihak.
Kita tidak boleh mennghakimi seseorang sebagai manusia yang jahat sebelum kita tahu apa yang melatar belakangi orang tersebut melakukan kejahatan. Selain itu, film ini menunjukkan betapa sulitnya keadilan dimiliki oleh orang-orang kelas bawah serta mudahnya lembaga peradilan dipengaruhi oleh masa dalam memutus suatu perkara.
Di akhir film ditayangkan fakta-fakta tentang perdagangan manusia. Sesuatu hal yang menjadi ironi di tengah bangsa yang dianggap merdeka. Memang kisah Jamilah hanyalah cerita fiksi dari sebuah drama. Namun, sebagian dari kisah-kisah itu telah terjadi di Indonesia.
Film ini menunjukkan betapa kemiskinan sangat mempengaruhi moral dan hidup seseorang. Film yang bisa dikatakan sebagai film provokatif, kritis, dan berkualitas. Namun, adegan serta narasi awal yang bagi saya terlalu kaku untuk sebuah film cukup mengganggu. Meski begitu, kekurangan dalam film ini terbayar dengan kualitas akting para pemainnya. Meski Fauzi Baadila yang berperan sebagai seorang anak kiyai yang provokatif belum terlihat maksimal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar