Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Islami. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juli 2013

Cerpen Islami_Cinta dan Rindu Allah

Cinta dan Rindu Allah
Oleh: Nuni Wahyuni
Ada apa?
Hati ini bergemuruh dahsyat
Kaki dan tangan ini bergetar hebat.
Ada apa?
Ini bukan perkara biasa
Kita berbincang tentang shalat
Anak itu menjawab:
Aku Cinta dan Rindu Allah
(Hilman dalam majalah “Relikui Kehidupan”)
***
“Asyhaduallaa Ilaahaillallah Waasyhaduanna Muhammadarrasulullah.”
Puluhan orang di masjid kecil di tengah  kota itu mengucap hamdalah dengan serentak. Senyum bahagia terukir di wajah orang-orang yang duduk melingkar. Mata mereka dengan lembut menatap seorang anak berusia dua belas tahun yang kini tengah dipeluk oleh seorang pria setengah baya. Beberapa orang mengeluarkan air mata. Bahkan ada beberapa orang yang menangis terisak sambil terus bertahmid. Secara bergantian para pria yang berasal dari berbagai suku bangsa itu bersalaman dan memeluk anak yang saat ini menjadi pusat perhatian. Seorang anak berambut pirang, bermata biru, berkulit khas kaukasoid itu juga tak berhenti mengucapkan tahmid. Wajahnya memerah karena tangis kebahagiaan.
Setiap orang kembali ke tempatnya masing-masing. Anak itu berdiri, didampingi pria setengah baya yang tadi membantunya mengucapkan syahadat.
“Saudara-saudaraku, hari ini kita telah menjadi saksi bahwa anak yang berdiri disampingku ini adalah seorang muslim. Berkat rasa cinta dan rindu yang menggebu kepada Allah, Tuhannya, dia memutuskan untuk menjadi bagian dari kita. Bagian dari umat Muhammad saw. bagian dari golongan orang-orang yang beriman kepada Allah. Dia, Cody Imanuel, saat ini telah mengganti namanya menjadi Muhammad Rif’atul Hamdi. Panggil anak muda ini Ahmad, agar dia merasa dekat dengan orang yang dia cintai.” Ucap pria setengah baya itu sambil memandang ke arah orang-orang disekelilingnya.
Bagi Cody yang kini telah mendapat nama baru, ini adalah hari yang luar biasa. Tidak pernah sekalipun dia bayangkan, dia menjadi bagian dari orang islam. Dia menjadi saudara bagi muslim lainnya. Dia menjadi saudara bagi muslim Arab, muslim Palestina, muslim Mesir dan muslim di tempat tinggalnya. Amerika.  
***
            Para remaja tanggung itu sedang asyik menikmati waktu istirahat makan siangnya. Beberapa anak tetap duduk di kelas, asyik memainkan gadgetnya. Beberapa anak lainnya langsung pergi menuju kantin sekolah.
Hand phone Ahmad (Cody) berdering. Ahmad bangkit dari kursinya.
            “Cody, kau mau ke kantin?” Tanya seorang anak berwajah oriental yang duduk disampingnya.
            “Emh, oh, aku ada perlu sebentar. Aku pergi dulu.” Ucap Ahmad terburu-buru.
            Ahmad terus melangkah cepat. Melewati koridor yang berkelok. Dua kali berbelok ke arah kiri, terlihat pintu kokoh yang menutupi sebuah ruangan. Ahmad memasuki ruangan tersebut. Dia mengeluarkan sebuah sajadah yang disimpan di dalam lemari di ruangan itu. Dengan cepat, dibentangkannya sajadah berwarna abu. Dia berdiri di atasnya. Lalu dia melaksanakan shalat Dzuhur empat rakaat.
            Tanpa Ahmad sadari, seorang anak laki-laki memasuki ruangan tempat dia shalat. Anak itu menyadari apa yang sedang Ahmad lakukan. Kemudian dia berlari mendatangi teman-temannya.
            “Ada teroris di sekolah ini! Ayo ikut aku!” Seru anak itu pada teman-temannya.
            Teman-temannya terlihat kaget. Dia mengikuti anak yang menyerunya. Tepat saat Ahmad memalingkan wajahnya ke kanan dan mengucap salam, mereka memasuki ruangan tempatnya shalat.
            “Lihat! Dia teroris. Apa yang dilakukannya adalah ritual yang sering dilakukan oleh teroris!” Seru anak itu kepada teman-temannya.
            Salah satu anak dari gerombolan itu langsung menyerang Ahmad yang berdiri kaget. Dia memukul tepat di ulu hati Ahmad.
            “Dasar teroris!” Ucap anak yang memukul Ahmad.
            Ahmad hanya mengerang kesakitan. Dia memegangi bagian ulu hatinya. Nafasnya menjadi sesak.
            Beberapa anak lainnya ikut menyerang. Mengeroyok Ahmad. Mereka memukul pipi, dagu, pelipis, dada serta kakinya. Ahmad tak mampu melawan. Dia tersungkur. Lemas. Matanya menjadi kabur. Mengerang dan bertakbir di dalam hati. Cahaya masuk. Pintu terbuka. Seorang pria berbadan lebih besar di banding yang lainnya masuk ke dalam ruangan. Kemudian semua menjadi gelap di mata Ahmad.
***
            Hilman duduk di meja kerjanya. Dia membuka map merah yang tadi diberikan bosnya. Dahinya mengkerut saat dia membaca profil orang yang harus diwawancarainya. Beberapa kali dia membolak-balik photo serta profil di map untuk meyakinkan diri. Dengan ragu dia berdiri, meninggalkan meja kerjanya kemudian mengendarai motor gedenya.
***
            Hilman mencium kesegaran lemon saat menghirup udara didalam rumah minimalis yang dikunjunginya. Dia duduk di sebuah sofa panjang berwana biru. Di dinding ruang tamu, ada beberapa photo keluarga imanuel. Photo seorang anak, wanita dan pria dewasa (yang semuanya bule) terpasang di tembok ruangan paling depan. Namun, bukan hal itu yang menyita perhatian Hilman. Ada sesuatu yang unik di ruangan ini. Di satu sisi, dia melihat sebuah salib besar terpasang di dinding. Akan tetapi, di sisi dinding lainnya, terpasang kaligrafi bertuliskan Huruf Arab yang indah.
            “Ayat kursi.” Ucapnya setelah mengenali tulisan itu. “Dari awal aku memang merasa aneh dengan orang yang akan aku wawancarai ini. Tapi aku tak pernah berfikir bahwa di rumah ini akan terpasang simbol dua agama yang berbeda. Sebenarnya siapa mereka?” Hilman mengerutkan dahinya, memandangi photo keluarga yang digantung di dinding depan. Lalu menyeruput kopi yang telah disuguhkan oleh tuan rumah.
            Tak lama, seorang anak berseragam SMP masuk. Dia tersenyum ramah kepada Hilman. Muka bulenya terlihat merah karena terbakar matahari. Akan tetapi, matanya yang cemerlang terlihat sangat menenangkan.
            “Kakak wartawan dari majalah relikui kehidupan?” tanya anak itu sambil duduk disamping Hilman.
            “Iya. Kau Cody Imanuel kan? Bisakah wawancara kita mulai sekarang?” Hilman memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arah anak bule itu.
            “Iya, tapi sekarang aku lebih sering dipanggil Ahmad. Kakak muslim?”
Hilman menganggukkan kepalanya.
“Ya. Saya muslim.”
“Sekarang sudah waktunya Shalat Ashar. Gimana kalau kita shalat dulu, setelah itu baru wawancara.” Ajak Ahmad pada Hilman.
Hilman menjawab dengan anggukkan. Ahmad mengantarnya menuju kamar mandi. Kemudian mereka berdua memasuki sebuah ruangan bercat putih. Seperti sebuah kamar yang disulap menjadi mushala kecil. Satu sajadah membentang ditengah ruangan tersebut. Sebuah lemari pelastik berdiri disudut belakang. Wewangian menyejukkan, memenuhi udara di dalam ruangan.
Ahmad mengambil sebuah sajadah dari dalam lemari. Dia membentangkan sajadah tersebut dibelakang sajadah lainnya. Lalu, dia berdiri di atasnya.
“Silahkan, kakak yang jadi imam!” Seru Ahmad pada Hilman.
Mata Hilman bergerak tak fokus arah. Senyuman terpaksa kembali tersungging di bibirnya. Dia berusaha menutupi rasa malunya.
“Maaf Ahmad, kakak lupa lagi dengan bacaan shalat. Sudah lama kakak tidak melaksanakannya.”
Ahmad tidak menjawab. Muka sumringahnya terlihat mengkerut. Kecewa. Dia pindah, berdiri di sajadah depan.
“Kalau begitu, kakak mau shalat di belakang Ahmad?” Ahmad kembali tersenyum.
Dengan langkah pelan, Hilman berjalan. Dia berdiri di atas sajadah di belakang Ahmad.
Ahmad mengangkat kedua tangannya.
“Allahuakbar.”
Hilman mengangkat kepalanya. Dadanya bergemuruh kencang. Tangan dan kakinya bergetar. Matanya memandangi punggung Ahmad.
“Kenapa?” ucapnya dalam hati. “Ada apa ini? Untuk pertama kalinya aku merasa tersentuh ketika mendengar seseorang mengumandangkan takbir. Sudah ratusan kali aku mendengar takbir, tapi baru kali ini ada sesuatu yang terasa aneh menusuk ke dalam hatiku. Kenapa? Ada apa?.” Sepanjang shalat berlangsung, perasaan aneh menyelubungi hatinya. Saat Ahmad mengucapkan salam, tanpa bisa dibendung lagi ruas-ruas air keluar dari sudut mata Hilman. Hilman berusaha menyembunyikan tangisnya. Dengan cepat dia mengusap wajahnya, berusaha menghapus air mata yang kini sudah berhenti mengalir. 
***
            “Sudah berapa lama kamu memeluk Islam?” Tanya Hilman pada anak berusia empat belas tahun itu.
            “Alhamdulillah sudah dua tahun kak.” Jawab Ahmad antusias.
            “Kau baru berada di sini sekitar satu tahun, artinya kau memeluk Islam sebelum berada di Indonesia?”
            “Ya. Aku memeluk Islam saat aku tinggal di Amerika.”
            “Bukankah kedua orang tuamu beragama katolik? Kenapa kau memutuskan memeluk Islam? Dan kenapa kini kau pindah ke Indonesia?
            Ahmad tertawa pelan. Tawanya tidak keras. Tawa itu justru terdengar menenangkan.
            “Iya. Ayah dan ibuku seorang katolik. Begitupula beberapa keluargaku yang lain. Sejak kecil aku belajar untuk menjadi pemeluk Katolik yang taat. Namun, orang tuaku memberikan kebebasan agar aku memilih agama yang sesuai dengan keinginanku. Berkat bantuan uncle yang telah terlebih dahulu menjadi mu’alaf, aku memutuskan untuk memeluk Islam sebagai agamaku. Ternyata, semakin aku mempelajari Islam, semakin menyenangkan. Mengenai kepindahanku ke Indonesia, tidak lepas dari keinginan kedua orang tuaku agar aku dapat belajar dengan tenang. Beberapa waktu setelah aku memeluk Islam, teman-temanku melihat aku melaksanakan shalat. Mereka merasa tidak suka karena menyangka shalat adalah ritual para teroris. Bahkan karena kesalahfahaman mereka, aku sempat mengalami penyiksaan baik fisik maupun psikologis. Teman-teman berusaha agar aku tidak shalat di sekolah. Namun, tidak semua teman-teman disana berlaku begitu. Ada juga teman-teman yang menghargai agamaku.”
            Beberapa saat Hilman terdiam. Dia berhenti mencatat. Dia mengingat masa kecilnya. Mencoba mengenang saat dia belajar shalat. Namun, yang ada difikirannya hanya wajah sang ustadz. Dia benar-benar lupa dengan apa yang ustadznya ajarkan--selain ayat kursi.
            “Hmm... Mendengar ceritamu tentang shalat, kakak jadi ingin bertanya, apa yang membuat shalatmu terasa berbeda? Apa yang kau baca saat shalat? Apa yang ada di dalam hatimu saat kau shalat? Jujur saja, tadi kakak merasa tersentuh, bahkan ketika kau mengumandangkan takbir yang pertama.” Tanya Hilman.
            Ahmad termenung sesaat. Dia mengerutkan dahinya, mencoba mengartikan kata-kata Hilman yang diucapkan dengan cepat.

            “Saya tidak tahu apa maksud kakak dengan berbeda. Mengenai bacaan shalat, aku rasa sama saja dengan shalat orang Islam lainnya. Tapi ada satu hal yang selalu bergelayut di hatiku saat shalat. Cinta dan Rindu kepada Allah yang sangat besar. Itulah yang selama ini aku rasakan.” Ahmad berbicara sambil tersenyum. Matanya melihat ke arah kaligrafi yang digantung di dinding.

Minggu, 05 Mei 2013

Lagu Kematian_Cerpen Islami


LAGU KEMATIAN
Oleh Nuni Wahyuni
            Bau keringat bercampur dengan bau apek dari kursi bus disampingku begitu menusuk hidung. Di tambah lagi dengan bau yang tak jelas hasil perkawinan dari bau minyak wangi dan bau keringat orang-orang yang berdiri berdesakkan denganku  membuat makanan yang tadi siang ku makan ingin keluar dari proses pencernaanku. Terkadang bus berhenti untuk kembali menyiksaku dengan menambah penumpang sehingga semakin sempit ruang gerak yang kumiliki. Awalnya bus melaju begitu lambat, tiba-tiba bus melaju dengan kencang dan berhenti mendadak, membuat tulang-tulangku serasa remuk karena harus berbenturan dengan orang yang berada di depanku.
            Sekarang penderitaanku sudah mencapai puncaknya. Penumpang sumakin banyak dan belum ada satu orangpun yang turun, hampir setengah jam aku berdiri berhimpitan dengan orang-orang yang berbau tujuh rupa. Udara segar menjadi langka. Rasa tak nyaman ku pun di tambah dengan teriakan dari supir bus yang marah-marah kepada kondekturnya, sekilas ku mendengar mereka bertengkar karena sang supir ingin menambah muatan sedang kondektur merasa penumpang sudah terlalu penuh. Aku benar-benar tersiksa. Ingin rasanya ku keluarkan ponsel ku dan aku dengarkan melodi-melodi indah yang telah ku program di dalamnya. Mungkin dengan cara seperti itu aku dapat mengurangi penderitaanku karena tak perlu mendengarkan kata-kata tak nyaman dari makhluk-makhluk yang sedang bertengkar hanya karena muatan. Tapi sayang, ruang gerak ku yang terbatas membuat tangan pun tak mampu untuk mengambil ponsel dari saku kiri celanaku.
            “ Perempatan  persiapan.” teriak kondektur bus
Dua orang yang berdiri di depanku berjalan dengan susah payah mendekati pintu belakang bus. Tiga orang yang sedang duduk pun berdiri, salah satunya seorang wanita muda yang ada di depanku. Setelah dia keluar dari kursinya dan menuju pintu belakang aku segera duduk di kursi yang tadi dia duduki.
“akhirnya....” Desahku
Seorang wanita tua duduk di samping kiriku. Wajahnya tidak terlalu putih namun bersih bercahaya sedikit menutupi keriput-keriput yang ada di wajahnya. Dia menggunakan jilbab biru tua dengan kerudung biru muda yang terjuntai sampai dada. Dia memejamkan matanya, namun bibirnya bergerak seperti mengucapkan sesuatu. Aku perhatikan gerak mulutnya dan akhirnya ku tahu bahwa ia mengucapkan kalimat basmallah. Aku berkata dalam hati, namanya juga orang tua harus sering-sering lah ingat Tuhan, kan udah deket sama mati.
Aku melihat ke luar jendela. Aku baru sadar ternyata di luar hujan begitu deras. Tadi aku begitu tersiksa sehingga tak menyadari derasnya hujan di luar bus. Bus terus melaju menembus gunung yang berkelak-kelok di selimuti kabut dan derasnya hujan. Aku keluarkan ponsel dari celanaku. Aku mainkan lagu terindah yang telah ku program didalamnya. Ku dengarkan melalui hadset yang telah ku pasang padanya. Aku kembali melirik ibu tua yang duduk di samping kiriku. Dia masih asyik dengan dzikirnya. Aku menyandarkan kepalaku di sandaran kursi. Aku memejamkan mata sambil dibelai oleh  syair-syair lagu yang menusuk kalbuku.
...For all those times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right...
Suara indah Celine Dion dalam lagu because you loved me membelaiku hingga tak kurasa aku terlelap. Mungkin terlalu cengeng untuk seorang laki-laki. Tapi lagu ini adalah lagu kenangan. Kenangan ku dengannya. Dengan gadis yang sekarang ku tuju rumahnya. Inilah yang ku inginkan, ku terlelap melepaskan lelah hidupku dengan didampingi melodi indah luar biasa.
****
Braaaaaaaaak...
Aku bangun dari tidurku namun tak sepenuhnya aku sadar dengan apa yang terjadi. Tulang-tulang ku serasa remuk, darah segar mengalir dari kepalaku. Kaki ku terhimpit oleh besi jok mobil, aku tak dapat menggerakannya. Lagu-lagu cinta nan indah masih kudengar dari hadset yang terpasang ditelingaku. Dengan lemah ku lepaskan hadset dari telingaku.  Lagu cinta yang baru saja menemani tidurku kini berubah menjadi suara-suara rintihan. Ada yang mengerang kesakitan, ada yang beristigfar dengan sangat lemah, dan terdengar tangisan anak kecil sambil memanggil-manggil ibunya. Aku mulai menyadari apa yang terjadi. Ingin rasanya ku sebut nama Allah namun yang terucap malah petikan lirik lagu cinta yang sepertinya begitu membekas di hatiku. Berulang kali ku coba namun tetap saja tak mampu aku mengucapakannya. Aku malah berulang kali mengucapkan syair-syair lagu cinta yang sekarang menjadi tak berguna. Ku lihat ke samping kananku. Bapak tua yang tadi berdiri disamping kanan ku bertumpuk bersama orang-orang yang mungkin telah menjadi mayat. Dia mengerang lemah. Lalu hening. Dari kepala sampai kakinya di penuhi oleh darah yang masih segar. Bau keringat, apek, serta minyak wangi yang tadi menusuk hidungku kini berganti menjadi bau amis dari darah-darah yang berceceran. Ku lihat ibu tua yang berada di samping kiriku. Aku terkejut melihatnya. Tak ada setetespun darah yang mengalir di kepalanya begitu pula di badannya ia masih terus memejamkan matanya sambil mengucapkan kalimat basmallah dengan begitu tenang.
Aku rasa nyawaku telah sampai pada batasnya. Tubuhku kian meregang, Rasa sakit yang menyiksaku semakin lama semakin menyakitkan. Darah segar di kepalaku bercucuran hingga membasahi bajuku. Kakiku yang terjepit besi jok kini telah menjadi mati rasa. Kini darah tidak hanya keluar dari kepalaku yang terluka tetapi juga keluar dari kedua lubang hidungku. Dadaku sesak luar biasa. Aku merasa sekujur tubuhku sakit tak terkira. Aku berusaha untuk menyebut nama Allah. Namun sekali lagi, hanya kata tak berguna yang keluar dari mulutku. Aku mengerang kesakitan lalu lidahku menjadi kelu dan kini semuanya hening.                                                                                    

Sepucuk Surat Dari Penjara_Cerpen Islami


Sepucuk Surat Dari Penjara
Oleh Nuni Wahyuni
Aku duduk di bangku taman yang dipagari wewangian rumput dan melati. Menatap langit biru yang luas mendekatkanku pada jiwa-jiwa para syuhada yang pergi dengan lapang. Nyanyian burung diiringi suara aliran air terjun kecil yang gemericik membawa diriku kembali pada saat aku dipertemukan dengan seorang pria yang selalu menghembuskan nafas kehidupan ketika suara baritonnya dengan syahdu melantunkan ayat-ayat suci yang telah terpatri dengan kekal di dalam hatinya. Seorang pria yang memberiku sepucuk surat yang telah membawaku pada muara kebahagiaan.
***
Aku berusia dua puluh tujuh tahun saat para polisi menggedor pintu rumah kontrakanku dengan kasar, menggiringku menuju sel tahanan dan menyeretku seperti anjing kudis pesakitan. Sebagai seorang aktivis, aku harus siap dengan apa yang aku hadapi hari ini. Hidup di balik jeruji besi, kehilangan kebebasan, mengahadapi hukuman dan penyiksaan sampai kemungkinan yang paling ditakuti oleh hampir semua orang, yaitu kematian. Tulisanku dalam blog dan media masa membuat para petinggi negeri merasa perlu memenjarakan seorang mahasiswa miskin yang dianggap akan mengganggu kestabilan pemerintahan karena telah berani mengkritik para pejabat yang hidup di dalam bangunan megah yang dibangun di tengah kesengsaraan rakyat. Pemerintahan bertangan besi ini telah membuat sebagian kaum intelek menjadi orang-orang “buta, bisu, tuli serta lumpuh” dan sebagian lainnya menjadi singa-singa yang digiring secara paksa menuju tempat pengasingan atau tempat penjagalan.
Aku digiring menuju sebuah rumah tahanan yang cukup dikenal oleh semua orang. Sebuah penjara bagi para tahanan politik yang di dalamnya disediakan berbagai siksaan hingga hukuman mati dilaksanakan. Tanganku masih diborgol ketika aku didorong kedalam sel kecil yang pengap dan pesing. Mataku belum mampu beradaptasi dengan kondisi ruangan yang remang. Semenit kemudian, aku menyadari bahwa aku tidak seorang diri dalam sel ini. Aku melihat seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun yang menggunakan baju tahanan berwarna biru tua. Pria itu memiliki wajah oval. Pada keningnya terdapat bulatan biru yang menandakan ketaatannya untuk selalu bersujud siang dan malam. Matanya bulat, tajam, lembut dan memiliki banyak kerutan. Bibirnya tipis sedikit menghitam. Hidungnya mancung namun terlihat sedikit bengkok akibat patah. Pada lengannya yang terbuka dapat kulihat beberapa luka memar.
Pria itu tersenyum, kemudian berjalan terpincang mendekatiku. Aku dapat merasakan hawa sejuk ketika dia mengusap rambutku dan mencoba membangunkanku. Kurasakan tangannya seperti kulit kayu ketika dia meraba tanganku yang diborgol.
“Tenanglah, sebentar lagi penjaga akan membawakan kuncinya. insyaAllah, saya akan membantu melepaskan borgol itu.” Ucap pria tua sambil mendekati jeruji besi.
Tak berapa lama seorang penjaga mendekati sel kami. Dia tersenyum kepada pria tua lalu memberikan kunci borgol dengan sopan. Aku tertegun. “Perlakuan penjaga ini benar-benar berbeda dengan orang-orang yang menggiringku tadi. Dia begitu sopan dan tak sedikitpun menunjukkan kebengisan.” Ucapku dalam hati.
Sambil membawa kunci di tangannya, pria tua itu mendekatiku dan melepaskan borgol yang membelenggu kedua tanganku. Pria itu kembali berjalan terpincang mendekati pintu sel lalu menyerahkan kunci dan borgol kepada penjaga yang berdiri di balik jeruji. Meski tanpa kata-kata dari mulut penjaga itu, aku dapat melihat rasa takzim yang tersirat dari wajah sang penjaga terhadap pria tua didepannya. Penjaga itu kemudian pergi setelah mengangguk dan tersenyum ramah kepadaku.
Pria tua itu duduk di depanku. Matanya yang tajam tapi lembut memberikan kehangatan di tengah-tengah udara penjara yang dingin. Aku tertegun mengamati wajah tua di depanku. Wajah itu tak asing. Wajah itu adalah wajah yang pernah kulihat beberapa tahun lalu. Wajah yang menjadi topik utama di beberapa media masa pada saat penangkapannya. Aku tersentak, tersadar tentang siapa nama di balik wajah di hadapanku.
“Afwan, apakah anda Prof. Ibrahim Sulaiman?”
Pria itu tersenyum. Senyumnya bagaikan pohon rimbun di tengah taman gersang. Memberi kesejukan bagi setiap orang yang ingin berteduh di bawahnya. Menjadi habitat dari tupai dan serangga yang berlindung pada setiap dahannya. Senyum itu, sungguh bersahaja. Tanpa perlu berkata dia mampu meyakinkan setiap orang dengan tatapan tajam nan lembut dihiasi senyum tulus yang tersungging di bibirnya.
“Iya, saya adalah orang yang Akhi maksud. Akhi siapa? Kenapa Akhi dibawa dan ditahan di sini?” Ucapnya dengan lembut.
Aku terenyuh saat mendengar dia menyapaku dengan sebutan akhi. Setidaknya di penjara yang dingin, pengap, pesing dan gelap ini, aku telah bertemu dengan orang yang luar biasa, bahkan dia menganggapku sebagai saudara dengan memanggilku akhi. Prof Ibrahim Sulaiman adalah seorang intelektual kharismatik yang memiliki pengaruh kuat karena pemikirannya. Dia juga begitu dihormati dan dikagumi oleh murid dan masyarakat di sekitarnya. Sosok tua di hadapanku bukanlah orang biasa. Dia adalah oase bagi negeri yang tandus dan gersang ini. Dia adalah kesatria intelektual yang berani maju di garda terdepan untuk menumpas segala bentuk kedzaliman. Dialah matahari, yang selalu dinantikan oleh negeri ini. Matahari yang senantiasa memberikan cahaya. Matahari yang memberi kemudahan dalam menentukan arah jalan. Meski kini matahari itu ditutup oleh sangkar yang begitu besar tapi sangkar itu tak akan pernah mampu menutupi seluruh cahaya matahari yang telah terlanjur bersinar.
“Saya Abdurrahman. Saya dibawa kesini karena tulisan saya di blog dan media masa yang dianggap terlalu tajam dalam mengkritik pemerintahan. Dalam surat penangkapan yang saya baca, saya juga dituduh melakukan pemberontakkan. Para petugas yang menggiring saya mengatakan bahwa keluarga saya juga akan ditahan karena saya dianggap sebagai pengkhianat negara.” Ucapku sambil menunduk lesu.
“Tenanglah Akhi, InsyaAllah tidak akan terjadi apa-apa dengan keluargamu. Yakinlah bahwa Allah senantiasa melindungi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Biarkan matamu yang selalu basah karena cinta pada-Nya menyaksikan bagaimana suatu saat keadilan ditegakkan. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kesabaran.”
Ucapannya adalah oksigen ditengah udara yang pengap. Sesak di dadaku karena rasa khawatir dibasuh oleh kata-katanya yang mengalir dengan lembut dan menyejukkan. Di balik jeruji ini, aku bersyukur karena telah dipertemukan dengan sosok yang begitu dihormati oleh berbagai golongan di setiap sudut negeri. Namanya adalah simbol kekuatan bagi kaum intelektual yang di penjara karena berusaha membela kebenaran.
Seorang penjaga berwajah masam mendekati sel kami. Dia menyeret seorang pria yang terkulai lemas dan penuh luka kemudian mendorongnya kedalam sel. Penjaga itu lalu pergi tanpa menghiraukan kami yang menatap pria penuh luka itu dengan pandangan simpati.
Prof. Ibrahim mendekati pria berlumuran darah itu. Kaki kanan pria itu penuh dengan luka goresan benda tajam. Tangan kanannya patah. Memar kebiruan menutupi hampir seluruh wajahnya. Kulit yang sebenarnya putih itu kini lebih didominasi oleh warna merah dan biru kehitaman. Saat ku mendekatinya, bau anyir darah langsung menyeruak menusuk hidung. Syaraf-syarafku yang belum terbiasa dengan anyir darah membuat kepalaku pusing dan perutku terasa diaduk-aduk dengan kencang. Prof. Ibrahim mengobati pria itu dengan peralatan seadanya. Aku yang mulai bisa mengontrol diri membantu sebisa mungkin mengobati pria yang penuh luka di depanku.
“Dia bernama Muhammad Iqbal. Kasusnya hampir sama sepertimu. Dia adalah aktivis muda yang merupakan harapan bagi negeri ini. Tadi pagi dia dipanggil oleh penjaga yang sering ditugaskan untuk menyiksa kami. Tak kusangka lukanya akan separah ini.” Ucapnya sambil terus membersihkan luka-luka pada kaki pemuda yang bernama Iqbal tersebut.
“Apakah semua tahanan di sini adalah tahanan politik? Dan apakah semua tahanan mengalami penyiksaan seperti ini?” Tanyaku sambil menatap pemuda yang penuh darah di depanku.
Prof. Ibrahim mampu membaca ketakutanku. Dia menatapku dan kemudian tersenyum. “Tidak semua, tapi memang kebanyakan tahanan disini adalah tahanan politik dan hampir semua tahanan politik mengalami penyiksaan.” Dia menghirup nafas sebentar, matanya yang telah menua memancarkan semangat yang tak pernah pudar. Dia kembali menyunggingkan senyumnya yang bersahaja, “tenanglah Akhi, Allah akan melindungi kita. Sakit yang kita rasakan di sini akan Allah balas dengan kenikmatan di akhirat jika kita mampu untuk bersabar. Saya yakin wajahmu yang bercahaya itu menunjukkan bahwa Akhi adalah orang yang kuat dengan hati yang suci.”
Setelah Iqbal sadar, Prof. Ibrahim mengenalkanku padanya. Iqbal menceritakan kisah perjuangannya, tentang kegiatan dakwahnya yang dinilai terlalu berani, saat dia ditangkap, diancam, digiring ke penjara, dan saat-saat dia mengalami penyiksaan baik fisik maupun psikis yang dilakukan oleh para penjaga. Mendengar kisahnya sama halnya dengan membaca kisahku sendiri. Kisah lalu dan kisah yang akan kuhadapi. Kini ku berusaha menguatkan diri agar aku mampu menghadapi segala hal yang akan ku alami.
Minggu ke tiga aku mengalami penyiksaan itu. Aku digiring kesebuah ruangan dengan cahaya yang remang. Di tengah ruangan itu tanganku digantungkan pada sebuah besi panjang dibawah langit-langit ruangan. Di hadapanku berdiri dua pria bertubuh kekar dan seorang pria bertubuh tambun. Pria tambun yang berdiri didepanku memaksaku untuk meminta maaf kepada pemerintah melalui media masa. Dia menyuruhku menarik semua tulisanku dan menutup blog yang kumilki. Setiap kali aku menolak atau diam, beberapa cambukkan keras mengenai punggungku yang telanjang. Terkadang sebuah tamparan dan pukulan keras dilayangkan kedua pria bertubuh kekar hingga pelipisku berdarah dan daguku serasa patah. Selanjutnya dua buah kayu balok disilangkan pada kakiku yang terikat. Kedua pria bertubuh kekar menarik balok itu secara bersilangan membuat kedua kakiku merenggang. Tak ada jeritan. Aku berusaha menahan sakit dengan menggigit bibirku hingga berdarah. Kesal karena aku yang terus membisu, mereka mengeluarkan cambuk listrik dan menyetrumkan cambuk itu ke punggungku yang sudah memerah. Akhirnya, aku menjerit kesakitan. Dengan tertawa puas, para penyiksa itu kembali mencambuk punggungku. Tatapanku kini mulai kabur. Suara tawa dan kata-kata kasar dari mulut para penyiksa kini mulai terdengar samar. Aku berusaha menguatkan diriku namun kepalaku terasa melayang-layang. Pada cambukkan listrik yang ketiga aku menjerit lemah kemudian semua terasa gelap dan kosong.
Ketika mataku terbuka aku telah berada didalam sel. Prof. Ibrahim sedang membersihkan dan mengobati luka dikaki kiriku. Aku berusaha bangun. Seluruh persendianku terasa ngilu. Kulit punggungku serasa terbakar. Wajahku seakan telah disayat oleh belati berkarat. Kakiku terlanjur mati rasa. Aku duduk dengan lemah. Prof. Ibrahim menopang tubuhku agar tak ambruk kebawah.
“Di mana Iqbal Prof?” Tanyaku setelah menyadari Iqbal tak berada di dalam sel.
“Dia telah pergi mendahului kita menjadi syuhada. Dia adalah pemuda yang tangguh dan kuat. Tadi pagi setelah Akhi dibawa para penjaga, dia dibawa ketempat eksekusi. Sebelum pergi, dia berpesan agar kita terus berjuang dan tidak boleh kalah oleh kedzaliman. Dia ingin disetiap shalat kita berdo’a semoga kita bertiga dipersaudarakan di dalam surga.”
Mendengar hal itu air mataku mengalir perlahan. Aku teringat tiga minggu kebersamaan kami dalam sel yang senantiasa dihiasi oleh semangat untuk menghancurkan segala bentuk kedzaliman. “Dengarlah saudaraku, sesungguhnya Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Jangan pernah kau menjadikan dirimu hina karena rasa putus asamu. Aku yakin kau adalah orang yang kuat.” Pesan iqbal saat tadi pagi aku diseret ketempat penyiksaan.
Rasa sakitku menjadi hilang. Pesannya telah mengobati luka dan menyulut api keberanian dalam diriku untuk melanjutkan perjuangan. Aku dipapah oleh Prof. Ibrahim kesudut penjara untuk bertayamum kemudian melaksanakan shalat ghaib untuknya.
Pada shalat tahajud malam ini, Prof. Ibrahim menjadi imam. Kami bersujud lebih lama dari biasanya. Saat berdo’a, Prof. Ibrahim memohon agar beliau, aku, iqbal dan para syuhada dipersatukan oleh Allah dalam surga sebagai saudara.
Enam bulan kemudian  Prof. Ibrahim dieksekusi. Hal ini menyulut kemarahan para pengikutnya, bahkan hampir semua kalangan mengecam eksekusi ini. Terjadi pemberontakkan di mana-mana. Kematian Prof. Ibrahim menjadi sebuah pukulan besar sekaligus air bah yang justru menghentakkan semangat seluruh rakyat. Setiap wilayah menjadi medan perang antara rakyat dan rezim yang berdaulat. Kemarahan nampak disetiap daerah. Eksekusi Prof. Ibrahim membuat seluruh rakyat bersatu. Rakyat menjadi kuat seperti gerombolan semut yang berhasil menggulingkan kekuasaan kumbang-kumbang yang congkak. Terjadi revolusi besar-besaran. Rakyat kini berdaulat. Seorang pemimpin kharismatik, murid Prof. Ibrahim yang dibebaskan dari penjara diangkat menjadi presiden. Seluruh tahanan yang tak terbukti bersalah dibebaskan. Negara kembali ditegakkan dan sang presiden terpilih berusaha menumpas segala bentuk kedzaliman.
Sebelum Prof. Ibrahim dieksekusi, dia sempat memberiku sepucuk surat dan memintaku memberikan surat itu kepada satu-satunya putri yang dia miliki. Seperti tahu apa yang akan terjadi, dia berpesan agar aku menyerahkan secara langsung surat itu kepada putrinya setelah aku bebas dari penjara. Melalui bantuan penjaga penjara ramah yang ternyata muridnya, aku diantar bertemu dengan putri Prof. Ibrahim.
Di sebuah rumah sederhana di sudut kota, aku melihat wajah yang bercahaya. Wajah putri dari seorang ulama yang kuat, sabar, suci, dan penuh dengan ketulusan. Meski ingin, aku tak bisa memandangnya berlama-lama. Dirinya terlalu suci untuk kunodai dengan pandangan nafsu yang membuat orang-orang menjadi lemah keimanannya. Kuberikan surat dari Prof. Ibrahim kepadanya. Dengan tangan gemetar dia menerima surat itu kemudian membacanya. Air matanya mengalir perlahan namun bibirnya menyungginkan senyuman. Tampak wajah itu seumpama bintang yang kemerahan. Bintang yang semakin bersinar dalam gelap malam. Dia menatapku hingga pandangan kami bertemu.
“Bacalah!” ucapnya lembut seraya menunduk.
Kubaca surat yang kini ada di tanganku. Aku terkejut dengan isi surat itu. Kulihat gadis suci didepanku mengangguk. Aku menangis dan bertakbir berkali-kali.
***
Dari langit tatapanku beralih kepada pria kecil yang sibuk membaca buku sambil sesekali bertanya. Dia duduk di depanku dan menyender manja kepada wanita di sampingnya. Terkadang keduanya tertawa bersama. Tawa mereka bukanlah tawa keras dan kasar. Tawa mereka seperti lantunan melodi yang merdu yang membuat orang disekitarnya bahagia.
“Kertas apa itu bi?” Tanya pria kecil itu ketika melihat kertas lusuh dalam genggamanku.
“Ini adalah surat yang mempersatukan Abi dan Umimu sayang.” Jawabku sambil tersenyum.
“Boleh aku membacanya?” Tanyanya sambil mendekat kearahku.
“Tidak untuk sekarang. Suatu saat setelah kau mengerti, Abi akan membacakan dan menceritakan kisah dibalik surat ini.”
Wanita bermata bulat, tajam dan lembut yang tadi duduk disampingnya mendekat kearah kami.
“Sebagai gantinya, bagaimana jika Umi ceritakan kisah perjuangan sahabat nabi?” tanyanya sambil duduk di sampingku.
Pria kecil yang ditanyanya merasa senang. Wanita di sampingku menceritakan kisah perjuangan tentang Bilal bin Rab’ah. Pria kecil di sampingnya dengan serius mendengarkan namun sesekali bertanya dan berkomentar. Aku tersenyum melihat anak dan istriku yang sedang berlayar mengarungi kisah sahabat nabi yang kehidupannya penuh dengan perjuangan. Kembali aku membuka kertas lusuh di tanganku. Takbir terus bertalu dalam hatiku.
Teruntuk Putriku
Ditempat yang Allah Muliakan

Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberimu kedamaian. Amin.
Anakku, ketika kau membaca surat ini mungkin Abi telah dieksekusi. Do’akanlah, semoga Abi dipertemukan dengan Rasulullah dan para syuhada sebagai saudara.
Anakku, jangan bersedih karena kepergian Abi. Sungguh, Abi merasa bahagia karena di sini abi dipertemukan dengan para syuhada. Abi juga sangat rindu untuk segera bertemu dengan-Nya.
Anakku, melalui surat yang singkat ini abi ingin memberitahukan bahwa laki-laki yang ada di hadapanmu saat ini bukanlah laki-laki biasa. Bagi Abi dia adalah teman, anak, sekaligus saudara. Enam bulan Abi hidup di balik jeruji bersamanya, Abi mampu merasakan adanya kesucian yang terpahat kuat di dalam hatinya. Dia adalah pria yang kuat, mampu menjaga, serta membawamu menuju kepada Ridha-Nya.
Anakku, sebelum Abi pergi, Abi telah menitipkanmu padanya. Namun Abi takut, akan menjadi dosa besar apabila dia menjagamu sedangkan kamu bukanlah muhrimnya. Karena itu, Abi ingin kamu menikah dengannya. Abi yakin dia akan menjadi sosok laki-laki yang dibutuhkan oleh negeri ini. Jadilah istrinya yang setia. Temani dia menghadapi lika-liku perjuangannya. Lahirkanlah anak-anak yang mampu memberi manfa’at bagi orang-orang disekitar mereka.
Anakku, Abi tak ingin memaksamu untuk menikah dengannya. Jika kamu tidak setuju dengan pilihan Abi, kamu boleh menyimpan surat ini untuk dirimu sendiri dan lupakan apa yang Abi tuliskan di dalamnya. Namun, jika kamu setuju kembalikanlah surat ini kepada laki-laki yang mengantarkannya.

Untuk Abdurrahman
Akhi, seperti yang pernah kukatakan, aku ingin kau membantuku menjaga putriku. Aku tak ingin kau menjaganya tanpa ada ikatan. Maka, aku harap kau mau menjadikan putriku sebagi istrimu. Aku tidak ingin  tali ukhuwah kita hanya sebatas teman senasib di penjara. Aku ingin kau menjadi suami darinya.
Akhi, aku tidak mau memaksamu. Jika kau tidak berkenan dengan keinginanku, maka carikanlah putriku seorang suami yang mampu menjaganya. Suami yang mampu menuntun dia menuju surga-Nya. Suami yang kuat imannya seperti kekuatanmu yang telah kulihat di penjara.

Ibrahim Sulaiman



Bandung, 02 Februari 2013. Pkl. 22.56

KEMBALI_Cerpen Islami


KEMBALI
Oleh: Nuni Wahyuni, Pendidikan Sosiologi, FPIS, UPI

Aku duduk di atas kursi kayu di tengah ruangan yang remang. Kakiku yang telanjang menapaki lantai keramik yang dingin. Tanganku diborgol di belakang sandaran kursi. Wajahku yang disoroti oleh sebuah lampu terasa panas karena menahan amarah. Mataku menatap lesu kearah dua lelaki berseragam biru tua yang terus memberondongku dengan pertanyaan yang justru mengintimidasi. Grundnorm yang mereka miliki tak berlaku bagi orang yang dianggap sebagai teroris meski itu masih belum terbukti.
“Hei Indonesian, akui saja bahwa kamu itu teroris!” Salah seorang pria berbicara sambil mendekatkan wajahnya ke depan wajahku. Bau alkohol begitu menyengat ketika mulut pria itu berada tepat di depan hidungku.
“Sungguh, saya bukan teroris Sir.” Jawabku sambil berdzikir di dalam hati.
“Kau bernama Muhammad Fadlan, seorang muslim, asalmu dari Indonesia, saat ini kau tercatat sebagai mahasiswa di salah satu universitas di Timur Tengah. Di bandara ditemukan sebuah tas hitam atas nama dirimu yang diketahui berisi bahan-bahan untuk membuat bom. Lalu perlu bukti apa lagi? Kau sudah tertangkap basah, kau masih mau mengelak lagi?”
“Tapi saya benar-benar bukan seorang teroris.” Jawabku tetap kukuh
“euggggghhhhh” Sebuah pukulan mendarat di atas perutku.
“Hey! Kau itu benar-benar keras kepala. Kau hanya tinggal akui saja bahwa kau itu seorang teroris dan tanda tangani surat pengakuannya maka urusan akan jadi mudah.”
“Apa saya harus mengakui sesuatu yang tak saya lakukan?”
“Apa? Sesuatu yang tak kau lakukan? Kau ini sudah tertangkap basah masih mengelak. Apakah aku harus memukulmu lagi baru kau mau mengaku?” Tangan pria itu kembali siap mendarat di atas perutku. Aku sudah bersiap menerima pukulan darinya tapi pria di sebelahnya menghentikan tangan temannya. Matanya yang tajam menatap lekat wajahku yang penuh dengan keringat.
“Tahan tanganmu Yurevich! Dia warga asing, kita tak bisa menyiksanya begitu saja. Kembalikan dia ke penjara. Sudah cukup kita mengintrogasinya. Setelah semua dokumen lengkap, kasusnya akan dilimpahkan ke meja hijau. Mungkin saat ini dia tak mau mengakuinya, tapi kebenaran akan terbukti di pengadilan.”
***
Aku merasa lelah dengan semuanya. Di penjara ini waktuku begitu dibatasi. Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan di dalam penjara dan bergaul dengan beberapa narapidana. Pekerjaan yang begitu menyita waktu membuat seorang muslim sepertiku harus berurusan dengan sipir penjara setiap hari karena keinginanku untuk tetap menjalankan shalat lima waktu. Beberapa kali aku harus menerima sanksi karena aku dianggap telah menyalahi aturan penjara terutama dalam hal waktu.
Di penjara ini aku bertemu dengan muslim lainnya. Dia bernama Farhat, warga negara Lebanon yang bermigrasi ke negeri para mafia ini. Awalnya dia bekerja sebagai penjual ikan di salah satu pasar kecil di sudut kota Moskwa, tapi dia harus berurusan dengan hukum dan di penjara karena telah membunuh warga Rusia yang hendak mencuri uang hasil penjualan ikannya. Meski berniat membela diri, tapi bagi warga asing seperti kami keadilan dan hak asasi bukanlah hal yang bisa di perjuangkan dengan mudah di negeri yang mengaku komunis ini.
“Ayo kita shalat! waktu shalat dzuhur telah tiba.” Aku mengajak Farhat yang masih memegang godam dan memecah batu dengan keringat yang terus mengucur.
“Kau saja. Aku sudah lama tidak shalat. Sejak memasuki penjara ini, aku tahu bahwa shalat tak bisa mengeluarkanku dari penjara. Bahkan karena shalat aku akan menerima sanksi pekerjaan ganda setiap hari sepertimu.” Jawabnya sambil terus memecah batu.
“Jadi, selama ini kau meninggalkan Tuhanmu? Sayang sekali, padahal aku yakin kau sangat meridukan-Nya.”
“Hei Indonesian, Urusi saja urusanmu sendiri. Jika kau memang ingin shalat, ya shalat saja. Tak perlu kau berceramah di sini.” Ucapnya sambil menatapku tajam. Tatapannya mengisyaratkan bahwa dia merasa tersinggung dengan ucapanku tadi. Gagang godam di genggam dengan kuat oleh kedua tangannya yang kasar.
Aku pergi meninggalkan Farhat yang kembali memecah batu. Aku menghampiri sipir penjara. Seakan sudah mengerti, dia menatapku dan menganggukkan kepalanya. Aku tahu, dengan komitmenku untuk tetap menjaga shalat lima waktu, aku harus bekerja lebih lama di banding dengan narapidana lainnya. Yah, itulah konsekuensi yang harus aku terima.
“347” Seorang sipir penjara mendatangi sel dan memanggil nomor tahananku.
Yes sir?” Tanyaku sambil mendekati jeruji.
“cepat keluar. orang dari kedutaan Indonesia menjengukmu.” Ucapnya sambil membuka pintu sel.
Aku melangkahkan kaki melewati lorong-lorong di antara jeruji. Ini kali pertama sejak aku berada di tahanan aku mendapat kunjungan. Langkah kakiku terhenti ketika aku berada disebuah ruangan dengan beberapa kursi dan meja yang berkelompok. Di salah satu meja aku melihat sosok yang ku kenal. Herman. Dia berdiri dan tersenyum ramah menyambutku yang masih berdiri di ambang pintu.
“Apa kabar kawan?” tanyanya sambil menyalamiku dan mengajakku untuk duduk. Di samping kirinya duduk seorang pria asing dan seorang yang dari kulit dan bentuk wajahnya ku duga orang Indonesia.
“Kabar baik. Bagaimana kau ada di sini? Bukankah kau telah kembali ke Mesir?” Tanyaku setengah tak percaya.
“Ya. Aku kembali ke sini setelah mendengar kabar penangkapanmu seminggu yang lalu. Perlu beberapa hari untuk mendapatkan izin bertemu denganmu.”
“Nampaknya sekarang aku menjadi orang penting. Untuk bertemu denganku saja kau harus menunggu beberapa hari.” Kelakarku sambil tertawa.
“Fadlan, kau masih bisa tertawa? Tahukah kau, betapa serius kasus yang kau hadapi. Di Indonesia kau menjadi head line di semua berita.”
“Aku tahu. Tuduhan teroris begitu memberatkanku. Aku harus tertahan di negeri ini dan tidak bisa melanjutkan tesisku. Aku juga tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi. Padahal selama empat bulan aku di sini aku tak pernah melakukan hal lain selain mengerjakan penelitian.”
“oh ya, berbicara mengenai tesismu, tolong maafkan aku. Aku tak bisa memperjuangkannya untukmu. Ini surat dari Universitas. Karena kasus ini, komite disiplin telah mencabut status kemahasiswaanmu.” Ucapnya getir sambil mengeluarkan surat yang dibungkus oleh amplop berwarna cokelat.
Tanganku bergetar ketika membuka amplop coklat di tanganku. Air mataku terlanjur keluar sebelum mataku sempat mebaca setiap kata yang tertera di atas kertas itu. Tangisku pecah setelah aku selesai membacanya.
“Bersabarlah saudaraku, yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya kau keluar dari kasus ini. Aku tahu kau sama sekali tak bersalah. Tiga bulan aku menemanimu di sini. Aku sangat mengetahui aktivitasmu selama ini. Aku siap menjadi saksi. Di sebelah kiriku adalah Ladonkin, dia pengacara Rusia yang telah aku tunjuk sebagai pengacaramu dan di sebelahnya adalah Pak Anwar, pengacara dari Indonesia yang ditunjuk oleh pihak kedutaan. Mereka akan bekerjasama menangani kasusmu dan membuktikan bahwa kau sama sekali tidak terlibat terorisme.” Ucapnya sambil menenangkanku.
“Bagaimana keadaan keluargaku? Pasti mereka khawatir dengan pemberitaan di media masa tentang penangkapanku.” Seakan tak peduli, aku meletakkan kembali surat Drop Out yang ada di tanganku ke atas meja.
“Kemarin ayahmu menelpon. Aku telah menjelaskan apa yang terjadi. Aku yakin dia mempercayaimu. Sekarang yang harus kau lakukan adalah berusaha menjaga dirimu sebaik mungkin di penjara ini. Jangan sampai membuat kesalahan dan teruslah berdo’a.”
“Maaf nak Fadlan, apakah pihak kepolisian telah mengintrogasimu?” tanya Pak Anwar yang duduk paling sudut.
“Iya, sudah pak.”
“Apakah mereka meminta kau mengaku bahwa kau seorang teroris?”
“Ya, mereka memintaku menandatangani surat pengakuan bahwa aku adalah seorang teroris. Tapi aku tidak menandatanganinya. Aku tahu jika aku menandatanganinya itu akan memberatkan posisiku.”
“Bagus. Aku yakin kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan. Sekarang yang paling penting adalah kita harus mengumpulkan saksi-saksi dan bukti-bukti untuk membuktikan bahwa kau tidak terlibat dengan jaringan terorisme.”
“Mungkin selain Herman, Prof. Tomski dan Dr. Yelena juga bisa dijadikan saksi. Selama disini aku sering menghabiskan waktu untuk penelitian dengan mereka. Gerrard dan Jodi juga mungkin bisa menjadi saksi. Mereka tinggal dengaku di flat yang kami sewa bersama ” Jawabku sambil berusaha tersenyum.
“Baiklah nak. Aku dan Ladonkin sebagai pengacaramu akan berusaha membebaskanmu. Kami akan mengunjungimu minggu depan. Sepertinya dua minggu lagi kasusmu akan segera dilimpahkan ke pengadilan. Bersiaplah dan jangan lupa berdo’a.” Ucapnya sambil berusaha menenangkanku dengan sorot matanya yang optimis.
***
Sidang tadi pagi benar-benar memberatkanku. Tas hitam yang menjadi barang bukti memang benar-benar ditemukan atas namaku. Prof. Tomski dan Dr. Yelena sedang melakukan seminar internasional di Amerika. Mereka belum bisa didatangkan sebagai saksi. Gerrard dan Jodi tiba-tiba menghilang entah kemana. Hanya Herman yang menjadi saksi. Kesaksiannya dianggap kurang kuat karena adanya hubungan pertemanan yang kuat di antara kami. Aku benar-benar merasa tertekan dengan situasi yang ku hadapi. Apa yang harus ku lakukan? Bayang-bayang vonis dua puluh tahun penjara dan hukuman mati mengahantui setiap sel dalam syaraf otakku.
“Sudah aku katakan, shalat tak bisa menolongmu.” Ucap Farhat sambil memakan kentang kecil di piringnya.
“Setidaknya shalat telah membuat hatiku tenang.” Jawabku dengan menatap matanya yang mengeras.
“ha...ha.... Kau ini benar-benar keras kepala. Aku tahu kasusmu itu lebih berat dari kasusku. Dari yang ku tahu kau sudah tak bisa mengelak lagi. Kau harus bersiap untuk terus berada di sini. Dan jika kau berada disini, apakah kau akan tetap bersikukuh dengan shalatmu itu?” Dia menatapku dengan pandangan mengejek.
“Sampai kapanpun aku tak akan pernah mau meninggalkan Tuhanku. Aku yakin ada hikmah tersendiri di balik semua musibah yang menimpaku. Aku berjanji, akan tetap menajaga shalatku.”
“Dasar Stupid. Aku yakin sebentar lagi kau akan lupa dengan janjimu itu.”
“Aku yakin suatu saat kau akan kembali pada Tuhanmu.” Jawabku sambil tersenyum.
Farhat nampak marah dengan kata-kataku. Tapi di sisi lain aku menemukan sebuah harapan di sorot lensa matanya yang kehijauan. Matanya menunjukkan sebuah kerinduan yang dalam untuk kembali bersujud kepada Allah seperti apa yang dulu senantiasa dilakukannya.
***
“Bagaimana ini? Kedua teman seflatmu tidak bisa dihubungi. Mereka telah menghilang sejak kau ditangkap di bandara.” Ucap Ladonkin.
“Adakah saksi lain?” Tanya Pak Anwar yang duduk disampingnya.
“Tidak. Hanya mereka yang bisa kita jadikan saksi. Bagaimana dengan Prof. Tomski dan Dr. Yelena, kapan mereka kembali?” Tanyaku.
“Mereka baru bisa kembali bulan depan. Padahal persidangan untuk pembelaan akan dilanjutkan minggu depan. Kalau seperti ini, posisi kita akan sulit.” Ucap Ladonkin dengan nada pesimis.
“Tenanglah. Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan ketidakterlibatan Fadlan dengan terorisme. Aku yakin masih ada jalan.” Ucap Pak Anwar.
Dalam tahajud kali ini, aku bersujud cukup lama. Bayangan dua puluh tahun di penjara di negeri ini atau menghadapi hukuman mati membuat fikiranku kacau. Hanya dengan bersujud lama, memohon pertolongan dari-Nya aku baru bisa menemukan ketenangan.
“Ya Allah, Kau yang Maha Pengasih, Kaulah Maha Penolong, hanya pada-Mu aku memohon pertolongan. Ini adalah ujian yang kau berikan padaku. Besok aku harus menghadapi keputusan pengadilan. Tapi aku tahu, keadilan ada di tangan-Mu. Seandainya aku tak menemukannya di dunia maka pertemukanlah aku dengan keadilan-Mu di akhirat.” Desahku.
Pagi harinya aku kembali duduk di kursi terdakwa. Ada satu kesempatan lagi pembelaan bagiku. Aku hanya bisa pasrah menghadapi persidangan kali ini, mengingat sulitnya mendatangkan saksi dan jelasnya barang bukti.
“Tenanglah.” Ucap Herman sesaat setelah aku tiba di pengadilan.
Tiba disaat pembelaan. Aku pasrah. “Saksi hanya Herman.” Desahku.
Tiba-tiba tanpa ku duga, pengacaraku memanggil Prof. Tomski dan Dr. Yelena. Mereka memberi kesaksian yang menguntungkan posisiku. Pengacara juga mengajukan barang bukti yang menunjukkan aku tidak memiliki hubungan dengan jaringan terorisme. Bukti lainnya adalah tidak ditemukannya sidik jariku pada tas hitam yang dijadikan barang bukti. Posisiku terangkat. Aku merasa bahagia diantara kepasrahanku.
***
 “Bagaimana dengan shalatmu?” tanyaku pada Farhat.
“Kau selalu menanyakan itu. Kenapa kau tak tanyakan kabarku? Setelah kau keluar dari penjara mukamu terlihat semakin bercahaya.” Ucapnya.
“Tentu. Itulah kekuatan seorang muslim. Cahaya akan terpancar pada orang-orang yang senantiasa menjaga shalatnya. Saudaraku, sekarang kau melihat sendiri, aku telah keluar dari penjara. Aku terbebas dari kasus pelik yang ku hadapi. Semua itu tiada lain karena pertolongan dari-Nya. Aku begitu menyayangimu sebagai saudara. Besok aku harus pergi ke Indonesia untuk menemui keluargaku yang khawatir denganku karena kasus yang menimpaku beberapa waktu lalu. Sebelum aku pergi dari negeri ini aku ingin memastikan bahwa kau tetaplah saudaraku. Saudaraku sesama muslim.” Ucapku panjang lebar.
Farhat tersenyum mendengar ucapanku. Ada air mata yang dia tahan di pelupuk matanya. Wajah putihnya memerah.
“Fadlan, Allah mendatangkanmu kesini bukan hanya untuk mengujimu. Allah mendatangkanmu untuk mengingatkanku agar kembali meraih Ridha-Nya. Ketika aku tahu kau bebas dari penjara, aku telah kembali pada-Nya. Kembali melaksanakan shalat lima watu meski aku tahu aku harus berurusan dengan sipir setiap hari seperti yang kau lakukan dulu. Kau telah mengingatkanku dengan shalatmu. Allah Maha Penolong. Tak sepantasnya aku meninggalkannya. Fadlan sampai kapanpun kita tetap saudara. Semoga Allah mempersatukan kita di surga sebagai saudara.”
Air mataku menetes perlahan. Mataku kini melihat sosok pria Lebanon yang kuat. Pria Lebanon bermata bulat itu kini telah kembali pada-Nya. Menjadi salah satu hamba-Nya yang bertaqwa. Dia telah kembali menjadi muslim seutuhnya. Kuserahkan selembar kertas yang telah ku bawa. Dia tersenyum ketika membaca syair yang ku tulis untuknya.
Jika kau lelah
Jika kau putus asa
Jika kau merasa tak berdaya
Kembalikan hatimu kepada-Nya
            Disini, Disana, Saat ini dan seterusnya
            Ketika hatimu tergetar karena ketakutan
            Ketika kau merasakan sakit yang tak bisa kau tahankan
Kembalikan hatimu kepada-Nya
            Disini, Disana, Saat ini dan seterusnya
Ketika hatimu merasa bahagia
Ketika fikiranmu dihiasi bunga-bunga surga
Kembalikan hatimu kepada-Nya
Karena bagaimanapun kau lelah menapaki harimu
Hatimu akan kembali kepada-Nya.
Itulah kekuatan, yang telah diwariskan
Kekuatan seorang muslim dimana iman telah terpahat kuat di dadanya.









Bandung, 18 Februari 2013 Pkl. 21:33